Tugas
Bahasa Indonesia
Kelas XI IPA 5
SMA NEGERI 4 DEPOK
APRIL,2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Teknologi sudah semakin maju,dimana orang
dalam memerlukan berita atau informasi sudah sangat mudah memperolehnya. Dari
sekian banyak kemajuan teknologi salah satu diantaranya adalah pesawat
televisi. Berbicara mengenai televisi, tentu ada tiga pihak yang terlibat di
dalamnya, yakni yang menyajikan, yang disajikan dan yang menikmati.
Televisi yang selama ini berperan
sebagai media massa elektronik, walaupun dalam bentuk yang paling sederhana,
ternyata mampu mempengaruhi dan menggiring seluruh umat manusia untuk membeli
dan memilikinya di berbagai belahan bumi ini sehingga boleh jadi, sampai hari
ini, sudah sekian milyar pesawat televisi diproduksi banyak pabrik di seluruh
dunia. Sementara merk, harga, mutu dan modelnya pun sudah sangat beragam dan
banyak pilihan.
Televisi dengan berbagai program
acara siarannya selama ini, dengan
berbagai jenis tayangan informasi dan hiburannya memang selalu menawarkan suatu
kenikmatan tersendiri bagi para penontonnya.
Memang tayangan televisi ada manfaat dan kerugiannya.
Lebih-lebih apabila pengaruh tayangan yang merugikan atau negatif dicerna oleh
anak-anak yang pada akhirnya akan
mewarnai pola pikir dan psikologis anak.
Apabila pola pikir anak
sudah terkontaminasi1 oleh pikiran
yang tidak sehat maka akan terbawa pada usia remaja. Menurut para pakar2
masalah media dan psikologi, di balik keunggulan yang dimilikinya, televisi berpotensi3 besar dalam meninggalkan
dampak negatif di tengah berbagai lapisan masyarakat, khususnya anak-anak.
Memang terdapat usaha untuk menggerakkan para orangtua
agar mengarahkan anak-anak mereka supaya menonton program atau acara yang
dikhususkan untuk mereka saja, namun pada kenyataannya, sedikit sekali orangtua
yang memperhatikan ini.
Televisi sekarang telah
menjelma sebagai sahabat yang aktif mengunjungi anak-anak. Bahkan di lingkungan
keluarga yang para orang tuanya sibuk bekerja di luar rumah, televisi telah berfungsi ganda4,
yaitu sebagai penyaji hiburan sekaligus sebagai pengganti peran orang tua dalam
mendampingi keseharian anak-anak. Terlepas
dari baik buruknya tayangan televisi yang ditonton seorang anak, pola menonton
televisi yang tidak terkontrol akan menimbulkan dampak psikologis bagi anak.
Oleh karena
itu, berdasarkan uraian diatas penulis akan menguraikan lebih lanjut mengenai
pegaruh televisi terhadap psikologi anak.
________________________________
1 Terkontaminasi : terkena kotoran, tercemar
2
Pakar : orang yg mempunyai keahlian dl bidang ilmu tertentu
3 Berpotensi : mempunyai kemampuan yg kemungkinan untuk dikembangkan
4
ganda
1.2
Identifikasi Rumusan Masalah
1.2.1 Apa televisi itu ?
1.2.2 Mengapa televisi itu dapat mempengaruhi
psikologi anak ?
1.2.3 Apa saja dampak positif televisi pada anak ?
1.2.4 Apa saja dampak negatif televisi pada anak ?
1.2.5 Bagaimana cara mengurangi menonton tv ?
1.2.6 Apa manfaat hari tanpa televisi ?
1.2.7 Apa saja yang mereka palajari dari
menonton televisi dengan waktu yang sangat lama?
1.2.8 Bagaimana pengaruh televisi terhadap psikologi
anak-anak ?
1.3
Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas , kami
membatasi masalah ini hanya pada no. 8 yaitu bagaimana pengaruh televisi
terhadap psikologi anak , dan menjadi pelajaran bagi seluruh orang tua, remaja
dan anak-anak.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, penulis
merumuskan masalah dengan judul “PENGARUH TAYANGAN TELEVISI TERHADAP PSIKOLOGI
ANAK”
1.5 Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini ialah :
Televisi
BAB II
DESKRIPSI
TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR
2.1
Deskripsi Teori
2.1.1
TELEVISI
Televisi
berasal dari kata tele dan visie, tele artinya jauh dan visie artinya
penglihatan, jadi televisi adalah penglihatan jarak jauh atau penyiaran
gambar-gambar melalui gelombang radio. (Kamus Internasional Populer: 1961)
Sedangkan menurut KBBI (2001:919) televisi adalah pesawat sistem penyiaran
gambar objek yang bergerak yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel
atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan
bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas
cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar, digunakan untuk
penyiaran pertunjukan, berita, dan sebagainya.
Televisi sama halnya dengan
media massa lainnya yang mudah kita jumpai dan dimiliki oleh manusia
dimana-mana, seperti media massa surat kabar, radio, atau komputer. Televisi
sebagai sarana penghubung yang dapat memancarkan rekaman dari stasiun pemancar
televisi kepada para penonton atau pemirsanya di rumah, rekaman-rekaman
tersebut dapat berupa pendidikan, berita, hiburan, dan lain-lain.
Yang dimaksud dengan
televisi adalah sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup
bersama suara melalui kabel.Sistem ini menggunakan peralatan yang mengubah
cahaya dan suara ke dalam gelombang elektrik dan mengkonversikannya kembali ke
dalam cahaya yang dapat dilihat dan suara yang dapat didengar.
Televisi
dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan dengan mudah dapat dijangkau melalui
siaran dari udara ke udara dan dapat dihubungkan melalui satelit. Apa yang kita
saksikan pada layar televisi, semuanya merupakan unsur gambar dan suara. Jadi
ada dua unsur yang melengkapinya yaitu unsur gambar dan unsur suara. Rekaman
suara dengan gambar yang dilakukan di stasiun televisi berubah menjadi
getaran-getaran listrik, getaran-getaran listrik ini diberikan pada pemancar,
pemancar mengubah getaran getaran-getaran listrik tersebut menjadi gelombang
elektromagnetik, gelombang elektromagnetik ini ditangkap oleh satelit. Melalui
satelit inilah gelombang elektromagnetik dipancarkan sehingga masyarakat dapat
menyaksikan siaran televisi.
2.1.2 Tujuan dan Fungsi Televisi
a. Tujuan
Sesuai dengan undang-undang
penyiaran nomor 24 tahun 1997, BAB II pasal 43, bahwa penyiaran bertujuan untuk
menumbuhkan dan mengembangkan sikap mental masyarakat Indonesia yang beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memperkokoh persatuan dan kesatuan
bangsa, dan membangun masyarakat adil dan makmur.
Jadi sangat jelas tujuan
secara umum adanya televisi di Indonesia sudah diatur dalam undang-undang
penyiaran ini. Sedangkan tujuan secara khususnya dimiliki oleh stasiun televisi
yang bersangkutan. Dari uraian di atas penulis dapat mengklarifikasikan
mengenai tujuan secara umum adanya televisi atau penyiaran di Indonesia, adalah
sebagai berikut:
b. Fungsi
Pada dasarnya televisi
sebagai alat atau media massa elektronik yang dipergunakan oleh pemilik atau
pemanfaat untuk memperoleh sejumlah informasi, hiburan, pendidikan dan
sebagainya. Sesuai dengan undang-undang penyiaran nomor 24 tahun 1997, BAB II
pasal 54 berbunyi ³Penyiaran mempunyai fungsi sebagai media informasi dan
penerangan, pendidikan dan hiburan, yang memperkuat ideology, politik, ekonomi,
sosial budaya serta pertahanan dan keamanan.´
Banyak acara yang disajikan
oleh stasiun televisi di antaranya, mengenai sajian kebudayaan bangsa
Indonesia, sehingga hal ini dapat menarik minat penontonnya untuk lebih
mencintai kebudayaan bangsa sendiri, sebagai salah satu warisan bangsa yang
perlu dilestarikan. Dari uraian di atas mengenai fungsi televisi secara umum
menurut undang-undang penyiaran, dapat kita deskripsikan bahwa fungsi televisi
sangat baik karena memiliki fungsi sebagai berikut:
Sebenarnya televisi memiliki beberapa fungsi,
yaitu :
Pada dasarnya fungsi
televisi adalah memberikan hiburan yang sehat kepada pemirsanya, karena manusia
adalah makhluk yang membutuhkan hiburan.
Selain untuk menghibur,
televisi juga berperan memberikan pengetahuan kepada pemirsanya lewat tayangan
yang ditampilkan.
Televisi
dapat mengerutkan dunia dan menyebarkan berita sangat cepat. Dengan adanya
media televisi manusia memperoleh kesempatan untuk memperoleh informasi yang
lebih baik tentang apa yang terjadi di daerah lain. Dengan menonton televisi
akan menambahkan wawasan.
2.1.3
Manfaat dan Kerugian Televisi
a. Manfaat Televisi
Televisi memang tidak dapat
difungsikan mempunyai manfaat dan unsur positif yang berguna bagi pemirsanya,
baik manfaat yang bersifat kognitif afektif maupun psikomotor
(Mansur,1993:28)5. Namun tergantung pada acara yang ditayangkan televisi
Manfaat yang bersifat
kognitif adalah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan atau informasi dan
keterampilan. Acara-acara yang bersifat kognitif di antaranya berita, dialog,
wawancara dan sebagainya. Manfaat yang kedua adalah manfaat afektif, yakni yang
berkaitan dengan sikap dan emosi.Acara-acara yang biasanya memunculkan manfaat
afektif ini adalah acara-acara yang mendorong pada pemirsa agar memiliki
kepekaan sosial, kepedulian sesama manusia dan sebagainya. Adapun manfaat yang
ketiga adalah manfaat yang bersifat psikomotor, yaitu berkaitan dengan tindakan
dan perilaku yang positif. Acara ini dapat kita lihat dari film, sinetron,
drama dan acara-acara yang lainnya dengan syarat semuanya itu tidak
bertentangan dengan norma-norma yang ada di Indonesia ataupun merusak akhlak
pada anak.
Televisi
menarik minat baik terhadap orang dewasa khususnya pada anak-anak yang senang
melihat televisi karena tayangan atau acara-acaranya yang menarik dan cara
penyajiannya yang menyenangkan.
b.
Kerugian Televisi
Kerugian yang dimunculkan
televisi memang tidak sedikit, baik yang disebabkan karena terapan kesannya,
maupun kehadirannya sebagai media fisik terutama bagi pengguna televisi tanpa
dibarengi dengan sikap selektif dalam memilih berbagai acara yang disajikan.
Dalam konteks semacam ini maka kita dapat melihat beberapa kerugian itu sebagai
berikut:
1. Menyia-nyiakan
waktu
2.
Melalaikan tugas dan kewajiban
3.
Menumbuhkan sikap hidup konsumtif
4.
Mengganggu kesehatan
5.
Alat transportasi kejahatan dan kebejatan moral
6.
Memutuskan silaturahmi
7. Mempengaruhi dan menurunkan prestasi
belajar anak
2.2
Kerangka Berfikir
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
media televisi terhadap psikologi anak dan upaya-upaya yang harus dilakukan
untuk meminimalisasi adanya pengaru buruk tayangan televisi tehadap psikologi anak. Serta untuk
mengetahui dampak pengaruh televisi terhadap psikologi anak.
Penelitian
ini menggunakan metode deskriptif. Deskriptif adalah salah satu metode
penelitian dengan cara observasi dan memberikan fakta secara actual dan
kontektual. Data yang diperoleh hanya berlaku bagi tempat waktu dan kondisi
penelitian.
Pada
penulisan karya tulis ini waktu yang dibutuhkan oleh penulis adalah dari bulan
Januari hingga bulan April 2010. Lokasi penelitian yang digunakan oleh penulis
adalah sebagian anak remaja yang ada disekitar SMA Negeri 4 Depok.
Dalam
karya ini penulis hanya berfokus pada pengaruh televisi terhadap psikologi
anak.
Objek dalam penelitian ini adalah anak-anak dibawah
umur 17 tahun yang sering menghabiskan waktu untuk menonton televisi.
Instrumen dalam penelitian ini adalah penulis dibantu
dengan angket dan dari berbagai sumber yang memuat tentang pengaruh tayangan
televisi terhadap psikologi anak.
Prosedur
pengumpulan data dalam karya tulis ini dilakukan oleh penulis adalah :
3.8
Teknik Analisis dan Pengolahan Data
Analisis data dalam karya
tulis ini dilakukan dengan cara menguji, menyesuaikan dan mengkategorikan data
dengan teori yang ada dalam telaah pustaka dengan data dari angket dan
wawancara. Dalam hal ini fase-fase perkembangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan anak dikaitkan dengan media televisi. Setelah semua terkategori
dengan baik atau terkumpul dengan baik, maka ditarik suatu simpulan dan
dijadikan alternatif pemecahan masalah.
Dalam karya tulis ini data
diolah dengan cara menyajikan dan menganalisis data kemudian diambil
kesimpulan. Dalam hal ini, data dari internet yang berupa pengaruh televisi
terhadap perkembangan anak dipilih sesuai dengan kebutuhan. Setelah itu,
data-data yang dapat digunakan dianalisis berdasarkan teori-teori yang ada,
kemudian ditarik suatu kesimpulan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Televisi merupakan media
elektronik yang mampu menyebarkan berita secara cepat dan memiliki kemampuan
mencapai khalayak dalam jumlah tak terhingga pada waktu yang bersamaan. Televisi
dengan berbagai acara yang ditayangkannya telah mampu menarik minat pemirsanya
dan membuat pemirsanya ketagihan untuk selalu menyaksikan acara-acara yang
ditayangkan. Bahkan bagi anak-anak sekalipun sudah merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari aktivitas kesehariannya dan sudah menjadi agenda wajib bagi
sebagian besar anak.
Dengan berbagai acara yang
ditayangkan mulai dari infotainment, entertainment, iklan, sampai pada
sinetron-sinetron dan film-film yang berbau kekerasan, televisi telah mampu
membius para pemirsanya terutama anak-anak untuk terus menyaksikan acara demi
acara yang dikemas sedemikian rupa. Tidak jarang sekarang ini banyak anak-anak
lebih suka berlama-lama di depan televisi daripada belajar, atau bahkan banyak
anak yang hampir lupa akan waktu makannya karena televisi. Ini merupakan suatu
masalah yang terjadi di lingkungan kita sekarang, dan perlu diperhatikan khusus
bagi setiap orang tua untuk selalu mengawasi aktivitas anaknya. Dari latar
belakang itu kami memasukkan rumusan masalah dalam penulisan hasil ini yaitu
Apa dampak negatif dari menonton televisi terhadap akhlak anak ? Apa sajakah
perilaku anak yang ditimbulkan dari kebiasaan menonton Televisi ? Bagaimana
peran orang tua dalam mengatasi dampak negatif menonton televisi terhadap anak
?
Dari rumusan masalah
tersebut kami dapat menjawab rumusan masalah pertama bahwa Kerugian yang
dimunculkan televisi memang tidak sedikit, baik yang disebabkan karena terapan
kesannya, maupun kehadirannya sebagai media fisik terutama bagi pengguna
televisi tanpa dibarengi dengan sikap selektif dalam memilih berbagai acara
yang disajikan. Dalam konteks semacam ini maka kita dapat melihat beberapa
kerugian itu yaitu menyita waktu, melalaikan tugas dan kewajiban, menumbuhkan
sikap hidup konsumtif, menganggu kesehatan dan berbagai hal yang merugikan
kita. Selanjutnya rumusan, masalah kedua yaitu mendorong anak menjadi
konsumtif, mengurangi semangat belajar, Merenggangkan hubungan antar anggota
keluarga, Menonjolkan perilaku imitative dan berbagai contoh yang bersifat
negative. Dan rumusan masalah terakhir adalah mengatasi dampak negative
menonton televisi pada anak adalah
4.2
Pembahasan
Dari masalah pengaruh televisi pada anak-anak ini kami
membahas mengenai masih banyaknya anak-anak yang gemar menonton televisi. Dari
hal itu kami akan membahas Pengaruh Televisi dan Tips Untuk Mengurangi Anak Menonton Televisi. Kecemasan
orangtua terhadap dampak menonton televisi bagi anak-anak memang sangat
beralasan, mengingat bahwa banyak penelitian menunjukkan televisi memang
memiliki banyak pengaruh baik negatif maupun positif.
Yang dikhawatirkan
dari kalangan orang tua adalah anak-anak yang belum mampu membedakan mana yang
baik dan buruk serta mana yang pantas dan tidak pantas, karena media televisi
mempunyai daya tiru yang sangat kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan
anak-anak.
Banyak yang menyatakan bahwa televisi
mampu mempengaruhi sikap, perilaku dan psikologi anak-anak. Akan tetapi sebenarnya yang salah
bukanlah
televisinya
tetapi dampak tayangan yang ada dalam televisi. Dengan demikian, persoalan
mendasar dari kehadiran media televisi terletak pada pemanfaatannya.
4.2.1 Pengaruh
Terhadap
Perkembangan
Anak
Sebuah
penelitian regional yang melibatkan anak – anak Kanada , Australia , Amerika
dan Indonesia dalam hal menonton televisi mendapatkan hasil yang menarik ,
yaitu anak Indonesia adalah penonton tv terlama , disusul Amerika , Australia
dan yang paling rendah Kanada .
Hal
ini tak lepas dari perubahan gaya hidup masa kini yang dianut sebagain besar
orang tua di Indonesia: Sibuk bekerja, pengasuhan anak diserahkan kepada
pengasuh serta berbagai faktor lain yang mengiringi.
Menonton
televisi tampaknya membawa dampak negatif pada perkembangan anak dibanding
dampak positif. Dari televisi anak-anak dapat menyaksikan semua tayangan,
bahkan termasuk yang belum layak mereka tonton, mulai kekerasan dan kehidupan
seks .
4.2.2 Pengaruh
Terhadap
Kesehatan
Kecenderungan menonton
tv terlalu lama akan meningkatkan angka obesitas pada anak-anak. Satu jam
nonton tv misalnya, akan meningkatkan obesitas sebesar 2%. Karena selama
menonton TV, , anak lebih banyak ngemil dan tak melakukan aktivitas olah tubuh.
Hal
yang sama berlaku bagi anak yang lebih suka bermain games atau komputer
dibanding anak yang bermain-main di luar bersama teman-teman. Saat nonton tv
atau main game, terjadi ketidakseimbangan energi yang masuk dan yang digunakan
. Saat anak nonton tv, kalori yang dibakar hanya sekitar 36 kkal/jam, padahal
apa yang dia konsumsi jauh melebihi kalori yang digunakan. Anak - anak perlu
aktif untuk bertumbuh.
Obesitas
tak hanya berdampak buruk bagi kesehatan karena mengundang berbagai penyakit
seperti hipertensi, diabetes, gangguan sendi, penyakit jantung koroner hingga
stroke saat anak dewasa, namun juga dapat mengganggu psikologis anak. Ingat,
obesitas akan terbawa saat anak dewasa jika tak ditangani secara baik. Mungkin
ia akan merasa malu, rendah diri, bahkan merasa tak berharga karena memiliki
tubuh 'berbeda' dibanding teman-teman di lingkungannya.
4.2.3 Pengaruh
Terhadap
Kecerdasan
Menurut
penelitian yang kami lakukan 6 dari 40 siswa mengatan tidak memiliki nilai yang
bagus di sekolah , dari data tersebut dia menonton TV lebih dari 3 jam sehari .
Menurut
hasil penelitian Hancox RJ. Association of Television Viewing During Childhood
with Poor Educational Achievement. Arch
Pediatr Adolesc Med 2005, bahwa menonton tv saat masa anak dan remaja berdampak
jangka panjang terhadap kegagalan akademis umur 26 tahun.
Sedangkan
penelitian lain mengenai pengaruh tv terhadap IQ anak mendapati hasil bahwa
anak di bawah 3 tahun yang rajin menonton televisi setiap jamnya ternyata hasil
uji membaca turun, uji membaca komprehensif turun, juga memori. Yang positif
hanyalah kemampuan mengenal dengan membaca naik. Dari situ disimpulkan bahwa
menonton tv pada anak di bawah 3 tahun hanya membawa lebih banyak dampak buruk
dibanding efek baiknya.
4.2.4 Upaya yang harus dilakukan untuk meminimalisasi
dampak negatif Televisi
terhadap psikologi anak.
1. Memperbaiki pola
menonton TV pada orang tua
Sebelum
kita koreksi dan perbaiki pola menonton TV pada anak, sebaiknya kita koreksi
dulu bagaimana pola kita menonton TV. Karena orang tua adalah figur bagi
anak-anak. Apa saja yang dilakukan oleh orang tua akan begitu mudahnya
dilakukan anak-anak pula. Kalau orang tua menonton TV kapan saja dan melihat
acara apapun tanpa kendali dan tanpa control, tentu anak akan mengira bahwa TV
memang suatu yang biasa ada dan sah saja dilihat dan dinikmati kapan saja
mereka suka. Kalau orang tua dating darimanapun yang disamperi pertama TV, atau
dalam rumah itu pagi, siang, sore, larut malam, dini hari TV terus menerus
hidup, maka anak-anak akan meniru pola orang tua menghadapi televisi. Dan
mereka akan menganggap TV sebagai suatu pelengkap yang harus ada, dan akan
terasa hambar apabila ia tidak ada. Sudah semestinya orang tua berusaha
terlebih dahulu untuk mengendalikan diri. Tonton TV seperlunya saja dan lakukan
diet menonton TV.
2. Buat
jadwal menonton TV
Buatkan anak-anak jadwal menonton TV.
Misalnya Minggu jam 16.00 – 17.00 lihat kartun Dinosaurus,
Senin jam 14.00 – 15.00 liaht acara game anak dsb. Dengan begitu anak-anak akan
terlatih untuk disiplin serta akan banyak terkurangi waktu mereka di depan TV.
Pada awalnya mungkin mereka sangat sulit untuk menepati jadwal yang telah
ditentukan, tapi lama kelamaan anak akan terbiasa. Ajaklah anak untuk
mendiskusikan berbagai acara anak yang ada di televisi. Berilah penjelasan
kepada anak mengapa sebuah acara atau film kartun tidak boleh dilihat. Dan
berilah kesempatan anak untuk mengemukakan pendapatnya.
Apabila mereka mengajukan usul untuk melihat
sebuah acara anak tanyakan alasan mereka memilih acara tersebut. Kalau alas an
mereka baik dan tepat tentu sepatutnya kita beri ijin mereka untuk menyaksikan
acara tersebut.
3. Dampingi
anak melihat TV
Selama ini kebiasaan kita, kalau anak-anak
asyik menonton TV tentu kita bias melakukan banyak kegiatan lain, tanpa
terganggu oleh mereka. Tapi jika kita ingin anak-anak tidak terpengaruh oleh
hal-hal yang negative yang ditimbulkan oleh TV, maka sebagai orang tua kita harus
mendampingi anak saat melihat TV. Dengan demikian kita akan tahu betul acara
apa yang disaksikan oleh anak-anak kita. Kalau ada hal-hal yang tidak baik kita
langsung bisa katakana pada mereka. Sehingga tidak terjadi sesuatu yang fatal
karena kita terlambat mengetahui bahwa apa yang dikonsumsi oleh anak-anak kita
adalah tontonan yang tidak sehat.
4. Kegiatan
pengganti
Saat kita sudah memutuskan untuk merubah pola
menonton TV pada keluarga, maka akan lebih baik lagi kalau ornag tua membuat
berbagai macam kegiatan pengganti yang disukai anak-anak. Banyak sekali
kegiatan yang bisa kita lakukan bersama anak-anak untuk mengurangi kegiatan
mereka menonton TV. Beberapa kegiatan di bawah ini mungkin bisa kita jadikan
salah satu alternative sebagai pengganti nonton TV.
a.
Melakukan berbagai macam permainan.
Banyak sekali permainan yang bisa dilakukan
anak-anak seperti sepak bola, monopoli atau berbagai macam permainan
tradisional seperti jamuran, gatheng, engklek dsb. Supaya lebih asyik ajak
anak-anak tetangga/kerabat.
b.
Membuat berbagai macam keterampilan tangan
Pilihlah ragam keterampilan yang mudah
dilakukan anak-anak, dan ajaklah mereka. Seperti membuat amplop, membuat
tas/dompet dari kertas, membuat kartu ucapan selamat
c.
Melukis/menggambar
Ajaklah anak pergi ke kebun atau ke tempat
terbuka, ajak mereka melukis atau menggambar apapun yang mereka sukai dan
mereka inginkan. Apapun dan seperti apapun hasil gambar berilah penghargaan
d.
Berkebun
Ajaklah anak-anak mengenal dan mencintai
tanaman dengan berkebun. Tanamlah biji-biji apapun atau segala macam tanaman
hias pada tanah/pot-pot. Dari hari ke hari tanaman itu akan tumbuh dan
berkembang. Tanamkan pada anak rasa syukur serta takjub akan ciptaan Allah.





0 komentar:
Posting Komentar